Wawasan

Akar Rumpun Ilmu Pendidikan Luar Biasa

Oleh: Ami Prayogo

Kehidupan manusia yang terus bergerak dari waktu ke waktu, mau tak mau turut berpengaruh pada pola pikirnya. Hal ini yang kemudian menyebabkan ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan, salah satunya ialah kemunculan ilmu terapan seperti Ilmu Pendidikan Luar Biasa. Bagaimana ilmu ini menunjukkan perannya dalam kehidupan?

Pada dasarnya ilmu dibagi dalam dua kategori yaitu ilmu alam (the natural science) dan ilmu-ilmu sosial (the social science). Kedua ilmu tersebut terus berkembang secara kualitatif. Sebagaimana dijelaskan oleh Suhartono (2005:97) bahwa secara  kualitatif, ilmu berkembang dari yang filosofis menjadi teoritis ilmiah kemudian menjadi praktis. Kehidupan manusia yang cenderung konsumtif dan kompleks dirasa tidak bisa lagi dipenuhi dengan ilmu yang mutlak dan memiliki kebenaran secara umum.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, manusia membutuhkan kebenaran yang bisa diaplikasikan secara khusus dan konkret untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan (Suhartono, hlm. 92). Bertolak dari kebutuhan tersebut, pengetahuan mulai terpecah, menjadi lebih praktis atau bersifat terapan. Secara konseptual, ilmu terapan sendiri berarti ilmu yang bertujuan untuk diaplikasikan atau diambil manfaatnya (Surajiyo, 2013:62).

Ilmu sosial pun mengalami berkembang  sehingga memiliki beberapa cabang ilmu utama hingga ilmu terapan. Cabang utama ilmu sosial tersebut antara lain antropologi (mempelajari tentang manusia dalam sudut pandang waktu dan tempat), psikologi (mempelajari proses mental dan kelakuan manusia), ekonomi (mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhan melalui proses pertukaran), sosiologi (mempelajari struktur organisasi dan sosial manusia), dan ilmu politik (mempelajari sistem dan proses pemerintahan).

Sementara itu, yang berkaitan dengan bidang pendidikan terdapat Ilmu Pendidikan yang adalah bagian dari ilmu sosial terapan yang mengaplikasikan konsep-konsep dari psikologi, antropologi, dan sosiologi (Suriasumantri, 2009, hlm. 95). Bidang ilmu Pendidikan Luar Biasa  (PLB) sendiri merupakan ilmu yang lebih spesifik, yakni ilmu terapan dalam menelaah segala permasalahan objeknya.

Objek material dari bidang ilmu Pendidikan Luar Biasa adalah anak berkebutuhan khusus yang memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda-beda. Anak yang satu dan lainnya memiliki kompleksitas kondisi dan kebutuhan belajar yang berbeda. Selalu terdapat kombinasi yang unik dalam setiap potensi, hambatan, dan kebutuhan belajar masing-masing anak. Sementara itu, cara kerja ilmu Pendidikan Luar Biasa ialah selalu  berupaya untuk memahami keunikan dari masing-masing anak berkebutuhan khusus. Itulah sebabnya bidang ilmu PLB dapat dikategorikan sebagai ilmu idiografis, yakni objek pembahasannya bersifat individu, unik, dan hanya terjadi satu kali (Surajiyo, 2013, hlm. 62).

Selain sebagai ilmu Idiograf, Pendidikan Luar Biasa juga termasuk dalam kategori geist. Dimana geist merupakan ilmu budaya yang objek pembahasannya adalah produk manusiawi dan cara mendekati objeknya tidak dengan menerangkan tetapi memahami atau verstehen (Surajiyo, 2013, hlm. 63).

Permasalahan tentang anak berkebutuhan khusus tidak pernah lepas dari masalah sosial dan budaya. Anak berkebutuhan khusus secara sosial merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya. Sudah semestinya anak berkebutuhan khusus mendapatkan hak yang sama dalam mengenyam pendidikan, tanpa isolasi dari masyarakat.             Hingga saat ini, masih timbul permasalahan seperti diskriminasi dalam layanan pendidikan dengan adanya labeling dan kesulitan mendapatkan layanan umum karena faktor kultural maupun struktural. Labeling dalam penanganan anak berkebutuhan khusus berangkat dari sudut pandang ilmu  medis. Dimana pemberian intervensi didasarkan pada hasil labeling diagnosa. Padahal, seorang anak memiliki gaya belajar dan kebutuhan sendiri meski secara garis besar hambatan yang dialami mungkin sama dengan anak lainnya.

Sebagai ilmu sosial, bidang ilmu PLB melihat anak berkebutuhan khusus dengan sudut pandang ilmu budaya atau humaniora. Widagdho, dkk. (2004, hlm. 15-16) menjelaskan lebih lanjut bahwa humaniora atau ilmu budaya dasar bukanlah tubuh keilmuan. Lebih tepatnya dipandang sebagai suatu sistem pendekatan yang menggunakan ilmu-ilmu tersebut untuk menyelesaikan permasalahan manusia dengan cara yang lebih manusiawi mengingat manusia adalah makhluk yang berbudaya.

Pandangan ilmu humaniora yang menekankan pada sifat kemanusiaan disebut juga dengan humanistis. Sudut pandang humanistis inilah yang saat ini digunakan dalam paradigma baru Pendidikan Luar Biasa. Paradigma Pendidikan Luar Biasa dinilai lebih humanistis dengan memberikan layanan tidak berdasarkan labeling. Hal ini diperkuat dengan penjelasan Alimin (2013, hlm. 10) tentang paradigma baru dalam Pendidikan Luar Biasa dimana pendidikan diberikan dengan mempertimbangkan hasil asesmen yang tidak hanya menampilkan hambatan belajar anak berkebutuhan khusus saja. Akan tetapi melihat hambatan belajar, hambatan perkembangan, dan kebutuhan belajar secara individual.

*Editor: Susana Febryanty

 

0 comments