ArtikelPeristiwa

Gerakan Kepedulian Sindrom Down dari Yogyakarta

Istilah Down Syndrome atau Sindrom Down masih terasa asing di masyarakat Indonesia. Akibatnya keberadaan mereka yang mengalami sindrom down kerap kali mendapatkan perlakuan yang kurang bersahabat dari berbagai pihak. Adakah upaya yang dapat dilakukan untuk membangun kesadaran masyarakat akan keberadaan mereka yang mengalami sindrom down?

Hingga saat ini pemahaman masyarakat mengenai sindrom down masih sangat rendah. Berbagai istilah seperti tuna grahita, retradasi mental, atau keterbelakangan mental yang disematkan pada penyandang sindrom down sering kali menimbulkan berbagai polemik. Diantaranya ialah  adanya penolakan dari berbagai pihak akan keberadaan anak dan individu yang menyandang sindrom down.  Salah satu bentuk  penolakan itu  muncul dalam perilaku bullying dan intimidasi terhadap mereka yang sindrom down.

Kurangnya pemahaman masyarakat tersebut tentunya akan berdampak pada seluruh aspek kehidupan penyandang sindrom down. Prof. Sunarti Sumartini, seorang ahli kesehatan anak senior dari UGM mengatakan bahwa pada dasarnya down syndrome bisa dideteksi sejak awal pertumbuhan anak. Menurutnya deteksi dini adanya sindrom down pada diri anak akan sangat baik untuk dapat memberikan stimulus yang membantuk perkembangan anak untuk bisa hidup mandiri di kemudian hari.

Bentuk Kepedulian

Tak banyak yang tahu bahwa Oktober merupakan Bulan Peduli Sindrom Down. Dalam rangka menyemarakkan bulan peduli Sindron tahun 2019 ini,  pada hari Minggu, 6 Oktober 2019  yang lalu,  Yayasan Indonesia Down Syndrome Insani (YIDSI), Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS), bersama dengan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, dan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM menyelenggarakan serangkaian kegiatan di Auditorium Kresna Gd. Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada.

Acara diawali dengan sejumlah sambutan dari pejabat terkait yaitu Direktur Utama RSA. UGM dr. Arief Budiyanto, Ph.D., Sp.KK(K)., Dekan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M. Med. Ed., Sp.OG (K)., Ph.D. Setelah itu, dilanjutkan pula dengan penandatanganan nota kesepahaman  dan kerja sama antara RSA UGM dengan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS), dan Yayasan Indonesia Down Syndrome Insani (YIDSI). Penandatanganan MOU ini disaksikan pula oleh  Wakil Gubernur DIY, K.G.P.A.A. Paku Alam X.

Kemudian, acara pun dilanjutkan dengan sambutan  dari Wakil Gubernur DIY, K.G.P.A.A. Paku Alam X yang menyambut baik penyelenggaraan kegiatan peduli sindrom down ini. Acara ini juga secara resmi dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur DIY, K.G.P.A.A. Paku Alam X.

Lalu acara berlanjut dengan seminar yang dibawakan oleh dr. Ade Febrina Lestari, M.Sc., Sp.A., dari Divisi Tumbuh Kembang Pedriatris Sosial Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKKMK UGM dan dr. Guritno Adi Setyawan,  Sp.KFR., dari Instalasi Rehabilitasi Medik  RSA. UGM sebagai pembicaranya. dr. Ade Febrina Lestari, M.Sc., Sp.A.,  membawa materi berjudul, “Tumbuh Kembang pada Anak Sindrom Down”. Lestari menekankan pentingnya deteksi kemungkinan sindrom down yang disandang anak sejak masa kehamilan. Ia pun menyayangkan keterlambatan deteksi yang kerap terjadi di Indonesia.

Lestari juga mendorong bagi orang tua untuk merencanakan penanganan anak sindrom down dengan sangat matang sebelum si anak berusia 7 tahun. Menurutnya, sebelum menginjak usia 7 tahun,  semua permasalahan anak baik yang berkaitan dengan kesehatan maupun kejiwaannya telah dideteksi dan tertangani dengan baik. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan jantung, pendengaran, IQ dan lain sebagainya.

Sementara itu, dr. Guritno Adi Setyawan, Sp.KFR., membawakan materi berjudul, “Program Rehabilitasi Medik untuk Menyokong Tercapainya Kemampuan Mandiri dan Berkarya bagi Individu Down Syndrome”. Menurut dr. Guritno Adi Setyawan,  Sp.KFR., rehabilitasi dan stimulus pada anak-anak sindrom down bisa dimulai dengan aktivitas dan kegiatan sehari-hari, seperti mandi, makan, minum, berhias dan bermain yang dilakukan sendiri oleh anak. Karena tanpa disadari berbagai aktivitas tersebut secara tak langsung melatih koordinasi otot si anak.

Menurut Setyawan, anak sindrom down cenderung memiliki sendi yang lebih lentur ketimbang kebanyakan orang. Oleh sebab itu, ia menekankan pada orang tua dan lingkungan terdekat untuk dapat mengendalikan berat badan anak dan individu yang menyandang sindrom down dengan melakukan pengaturan pola makan atau diet yang tepat.

Acara pun berlanjut pada talkshow yang menghadirkan sejumlah orang tua dari anak sindrom down yang dimoderatori oleh dr. Widya Wasityastuti, MSc, MMedEd., PhD. Pada acara talkshow ini, para orang tua berbagi pengalamannya membimbing dan mendidik anak-anak mereka hingga mampu hidup dengan mandiri dan menghasilkan karya yang membanggakan. Beberapa pesan yang terangkum dalam talkshow tersebut antara lain: orang tua harus belajar ikhlas menerima keberadaan anaknya yang mengalami sindrom down. Orang tua juga harus bisa memberikan keteladanan dan menunjukkan kebiasaan positif secara terus menerus pada anak. Selain itu, orang tua juga tak perlu berkecil hati dengan keadaan anaknya yang sindrom down, karena setiap anak pasti memiliki kelebihan/kemampuan yang bisa dibanggakan. Oleh sebab itu, orang tua harus jeli menangkap bakat dan kelebihan anak tersebut. Orang tua jua harus bisa mendukung setiap pembinaan dan pelatihan yang dibutuhkan anak untuk mengembangkan bakatnya tersebut.

Selain acara seminar dan talkshow, panitia juga menyiapkan serangkaian kegiatan yang melibatkan anak-anak sindrom down seperti pertunjukan seni tari, nyanyi dan puisi oleh anak sindrom down. Ada pula pertunjukan senam silat anak sindrom down yang melibatkan para tamu undangan untuk bergerak bersama mereka. Di sela-sela seminar dan talkshow, diselenggarakan pula lomba gambar dan mewarnai yang diperuntukkan khusus bagi anak sindrom down.

 

Aksi Nyata

Bertepatan dengan penyelenggaraan rangkaian kegiatan Bulan Peduli Sindrom Down  tersebut, Plaza Informasi Pendidikan Luar Biasa (PINPLB) pun menunjukkan kepedulian terhadap sindrom down pun melakukan aksi nyata yaitu dengan membuka stand pameran di selasar  Auditorium Kresna Gd. Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada. Pembukaan stand pameran ini bertujuan selain untuk mensosialisasikan keberadaan PINPLB pada masyarakat, juga dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang tepat pada masyarakat (terutama orang tua) mengenai berbagai permasalahan seputar anak difabel, termasuk anak sindrom down.

Pembukaan stand pameran tersebut nyatanya disambut baik oleh masyarakat, terutama para orang tua yang memiliki anak difabel. Hal ini dikarenakan tim PINPLB memberikan layanan konsultasi gratis secara langsung di acara tersebut. Sejumlah pihak pun tampak antusias  untuk mendatangi dan melakukan konsultasi secara langsung di stand pameran oleh PINPLB. Dengan pembukaan stand pameran ini, PINPLB hendak menunjukan kepedulian pada persoalan anak difabel adalah sebuah aksi dan tindakan yang nyata, dan bukan hanya sekedar wacana semata.

*Reporter: Susana Febryanty

*Editor: Susana Febryanty

 

0 comments