IMG-20150923-WA0000

Gerkatin Jabar Memperingati Pekan Tuli Sedunia

Posted on Posted in Artikel, Peristiwa

Pada umumnya, terdapat beberapa tanggal yang momentum dan diperingati oleh seluruh dunia maupun pada suatu daerah.  Pekan tuli sedunia salah satunya, pekan ini merupakan inisiatif dari Federasi Tuli sedunia (World Federation of Deaf) dan pertama kali diluncurkan pada tahun 1958 di Roma, Italia. Sejak itu, dirayakan setiap tahun oleh komunitas tuli sedunia. Dapat kita ketahui pekan tuli sedunia merupakan serangkaian kegiatan dalam waktu seminggu yang sudah ditetapkan Federasi Tuli Sedunia (WFD). Tujuan dari pekan tuli sedunia yaitu untuk meningkatkan kesadaran tentang komunitas tuna rungu di individu, masyarakat dan tingkat pemerintahan. Pekan Tuli Internasional berusaha untuk mempromosikan hak-hak orang tuli dan menyoroti topik hak asasi manusia tertentu yang mendapat perhatian.

Dokumentasi Gerkatin Jabar
Anggota dan Relawan Gerkatin Jabar saat kegiatan Baksos tanggal 22 September 2015 dalam rangka pekan tuli sedunia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki organisasi masyarakat tuli. Hampir di setiap propinsi terdapat organisasi GERKATIN yaitu gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia. Gerkatin propinsi Jawa Barat mengadakan bakti sosial di balai kota Bandung pada tanggal 22 September 2015 pukul 10.00-12.00 WIB. Adapula pawai damai yang dilakukan di sepanjang Jl. Merdeka hingga Jl. Asia Afrika pada tanggal 27 September 2015 nanti. Serangkaian acara tersebut diketuai oleh Sri Kurnia Purwaningsih dan dibantu sejumlah relawan yang peduli terhadap BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia). Selain itu pada tanggal 27 September 2015 DPD GERKATIN Jawa Barat juga akan mengikuti kegiatan GRADASI (Gerakan Difabel Anti Korupsi), salah satu kegiatan HAKI (Hari anti Korupsi Indonesia) dengan bertujuan difabel bisa mencegah atau ikut serta dalam aksi anti korupsi (Zulhamka, Anggota BILIC).

Perlu diketahui World Federation of Deaf (WFD) atau Federasi Tuli Sedunia adalah sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang mewakili sekitar 70 juta orang di seluruh dunia Tuli. Diperkirakan bahwa lebih dari 80 persen dari 70 juta tinggal di negara-negara berkembang, di mana pihak berwenang jarang akrab dengan kebutuhan atau keinginan mereka. Sebagian besar orang tuli tidak mendapatkan pendidikan di negara-negara berkembang dan sekitar 80% dari 70 juta orang tuli di dunia tidak memiliki akses ke pendidikan. Hanya sekitar 1-2% dari orang tuli di dunia yang mendapatkan pendidikan dalam bahasa isyarat terutama perempuan dan anak-anak tunarungu. Sampai saat ini pembangunan hukum dan pengakuan bahasa isyarat masih dalam perjuangan mempromosikan partisipasi yang setara untuk orang tuli di dalam bermasyarakat.

Prioritas dalam karya Federasi Tuli Sedunia (WFD) yakni untuk menjamin hak asasi manusia bagi orang-orang tuli di seluruh dunia, di setiap aspek kehidupan. Hak asasi manusia bersifat universal dan dimiliki oleh semua orang tanpa memandang jenis kelamin, asal kebangsaan atau etnis, warna kulit, agama, bahasa, atau status lainnya seperti cacat atau tuli. Berdasarkan hak-hak tersebut orang yang mengalami hambatan pendengaran berhak untuk melaksanakan hak-haknya dalam sipil, politik, sosial, ekonomi dan budaya atas dasar konsep kesetaraan dengan orang lain. Sayangnya, hak-hak orang tuli belum sepenuhnya diperhatikan, terutama di negara-negara berkembang. Prasangka sosial terhadap kemampuan dapat menjadi hambatan orang tuli untuk menikmati hak asasi manusia penuhnya. Hambatan utama bagi masyarakat tuli adalah kurangnya pengakuan, penerimaan dan penggunaan bahasa isyarat dalam semua bidang kehidupan serta kurangnya penghormatan terhadap identitas budaya dan bahasa orang tuli itu sendiri. (Octi)

Informasi hari tuli sedunia diperoleh dari www.wfdeaf.org

0 comments