TunaDaksa

Kebutuhan Penyandang Tunadaksa

Posted on Posted in Artikel

Bicara soal kebutuhan hidup penyandang tunadaksa, perlu dipahami bahwa penyandang tunadaksa memiliki kebutuhan yang sama. Penghidupan layak dengan terpenuhinya sandang, pangan, papan, dan pendidikan menjadi kebutuhan utama sebagai manusia. Gangguan yang terjadi pada sistem otot, rangka, dan syaraf menimbulkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Agar kebutuhan hidup sehari-hari penyandang tunadaksa dapat terpenuhi tanpa mengalami kesulitan karena hambatan fisik yang dialami, penyandang tunadaksa memerlukan bantuan dari lingkungan sekitar. Disitulah istilah kebutuhan khusus bagi penyandang tunadaksa berlaku.

Apakah semua penyandang tunadaksa disebut berkebutuhan khusus? Ketika penyandang tunadaksa mampu merawat dirinya sendiri setiap hari, bahkan dapat mandiri di masyarakat, memiliki pekerjaan dan pergaulan yang baik di masyarakat, penyandang tunadaksa sudah tidak lagi dikatakan berkebutuhan khusus. Artinya, penyandang tunadaksa mengetahui apa yang mereka butuhkan dan dapat memenuhi kebutuhan dengan cara yang dapat dilakukan secara mandiri. Ketika kehilangan atau kekurangan pada salah satu anggota tubuh tidak menjadi penghalang untuk melakukan aktifitas sehari-hari, berarti tidak disebut berkebutuhan khusus. Misalnya, ada seorang pekerja pabrik yang kehilangan salah satu jari kakinya karena kecelakaan kerja. Dalam contoh ini, pekerja tersebut masih dapat makan, minum, mandi, berpakaian, bepergian, berjalan, berkomunikasi, bekerja seperti biasa. Artinya, pekerja tersebut tak membutuhkan alat bantu apapun untuk melakukan aktifitas yang biasa dilakukannya setiap hari. Maka pekerja tersebut tidak termasuk berkebutuhan khusus.

Mengingat kondisi yang dialami penyandang tunadaksa beragam dalam karakteristik dan tingkat keparahannya, tidak semua orang yang mengalami kondisi tunadaksa dapat dengan mudah mampu hidup lepas dari istilah berkebutuhan khusus. Bagi yang sudah mampu merawat diri dalam kehidupan sehari-hari pun pada hal tertentu masih berkebutuhan khusus. Misalnya untuk bepergian, ada penyandang tunadaksa yang membutuhkan alat transportasi yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mereka mudah bepergian.
Penyandang tunadaksa membutuhkan layanan yang terpadu agar dapat mengurangi kesulitan akibat kondisi fisik mereka. Layanan bagi penyandang tunadaksa juga bertujuan mempersiapkan kemandirian penyandang tunadaksa. Layanan yang dapat diberikan bagi penyandang tunadaksa adalah layanan rehabilitasi medis, pendidikan akademik, pendidikan keterampilan atau vokasional, dan layanan psikososial.

Layanan medis meliputi fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dan pemasangan ortosis-protesis. Melalui fisoterapi kemampuan organ tubuh untuk bergerak dipulihkan, dikembangkan, ditingkatkan, dan dipelihara secara manual (pijatan), dengan alat khusus, dan latihan-latihan gerak. Terapi okupasi berikan untuk mengembangkan, memelihara, memulihkan fungsi tubuh untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari (activity daily living), kegiatan yang produktif atau bermanfaat, dan pemanfaatan waktu luang. Terapi wicara diberikan untuk memulihkan dan mengupayakan fungsi komunikasi, bicara, dan menelan dengan melalui stimulasi (perangsangan organ bicara), latihan bersuara, dan latihan berbicara. Pelayanan ortotis-prostetis merupakan salah satu bentuk pelayanan medis secara teknik yang bertujuan merancang, membuat, dan memasang alat bantu guna pemeliharaan dan pemulihan fungsi, atau pengganti anggota gerak.

Layanan pendidikan akademik bertujuan mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sesuai tingkat kemampuan masing-masing penyandang tunadaksa. Ada yang dapat mengikuti tingkat kesulitan materi pada umumnya, ada yang sebatas mempelajari dasar-dasarnya saja agar lebih mudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada pula yang mempelajari materi akademik yang langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari (akademik fungsional).

Pendidikan keterampilan diberikan sebagai pengembangan diri dan persiapan kemandirian ekonomi di masa mendatang. Keterampilan yang diajarkan harus sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakat penyandang tunadaksa itu sendiri. Dan yang lebih penting lagi, keterampilan yang diajarkan tentunya bernilai jual di masyarakat. Misalnya saja keterampilan menjahit, memasak, membuat kerajinan, mengoperasikan komputer, beternak, budidaya, membatik, dan lain sebagainya. Keterampilan bernilai jual yang diajarkan akan lebih baik jika disesuaikan dengan kebutuhan pasar di lingkungan yang terjangkau penyandang tunadaksa sehingga keterampilan yang diajarkan benar-benar bermanfaat.

Layanan psikososial bertujuan untuk memberikan penguatan pada penyandang tunadaksa secara kejiwaan agar dapat berkembang dengan mental yang sehat, yaitu memiliki penilaian positif terhadap diri, sehingga penyandang tunadaksa dapat hidup bermasyarakat secara wajar tanpa harus merasa rendah diri. Bentuk dari layanan psikososial dapat berupa bimbingan konseling. Layanan bimbingan konseling ini dapat diperoleh di sekolah melalui guru bimbingan konseling atau di lembaga khusus psikososial.

0 comments