48ee29225ff72ceb9dba339d0e948d5f

Keserasian dalam Keberagaman

Posted on Posted in Artikel, Wawasan

Tidak ada seorang pun di dunia ini tercipta dengan potensi yang seragam. Setiap individu yang lahir di dunia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga muncul perbedaan. Perbedaan pada setiap individu memberikan warna dalam kehidupan yang disebut keberagaman. Keberagaman itu hadir dalam banyak rupa. Gender, agama, status sosial, status ekonomi, kondisi fisik, ras, kemampuan, kebutuhan, kepentingan, dan lain sebagainya. Satu diantara keberagaman ialah individu berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.

Seorang berkebutuhan khusus hidup dalam dua dunia, yakni masyarakat pada umumnya dan komunitas berkebutuhan khusus. Permasalahan sering hadir dalam dunia yang mempertemukan seorang berkebutuhan khusus dengan  masyarakat pada umumnya. Dunia masyarakat pada umumnya lebih banyak menghadirkan situasi baru bagi penyandang disabilitas.  Dimana dalam situasi baru tersebut individu belum mengetahui apa yang harus dilakukan, seperti apakah respon lingkungan, kemanakah untuk mencapai tujuan, cara apa yang digunakan untuk mencapai tujuan. Situasi baru ini seringkali mendorong individu untuk melakukan “trial dan eror“, menimbulkan rasa takut, cemas, bahkan tertekan.

Sesungguhnya situasi baru dapat dialami oleh siapa saja dan dimana saja. Hal yang membedakan adalah situasi baru bagi penyandang disabilitas memiliki tantangan yang lebih banyak. Dimana diantara disabilitas hadir dalam fisik yang berbeda, kemampuan yang berbeda, dan perilaku yang berbeda. Perbedaan itu ditanggapi oleh orang lain di sekitarnya dengan berbagai respon. Yang terburuk adalah respon negatif yang diekspresikan dengan penolakan. Penolakan itu dapat datang dari lingkungan paling dekat (keluarga) hingga lingkungan lebih luas. Penolakan-penolakan itu berbentuk ketidakpedulian pada hak individu berkebutuhan khusus sebagai manusia.

Ketidaktahuan akan kondisi yang dialami individu berkebutuhan khusus oleh anggota keluarga mendorong tiga kemungkinan. Pertama, mencari tahu. Keluarga yang peduli cenderung akan mencari tahu apa yang  sesungguhnya terjadi pada individu tersebut. Setelah mengetahui, menyikapi dengan positif dan respon berlanjut pada menjawab pertanyaan “apa dan bagaimana yang harus dilakukan agar individu berkebutuhan khusus dapat berkembang dengan semestinya?”. Kemungkinan kedua, keluarga mencari tahu tentang kondisi yang dialami individu, namun setelah mengetahui keluarga tidak menerima. Cenderung membiarkan, mengisolasi dari pergaulan, tidak memberikan perhatian dan kasih sayang, terlalu melindungi dari lingkungan, tidak memberikan pendidikan, dan bersikap tertutup pada informasi. Kemungkinan ketiga ialah yang sangat memprihatinkan. Kemungkinan ketiga hampir sama dengan kemungkinan kedua. Hanya saja perbedaannya, pada kemungkinan kedua masih terdapat inisitif di awal untuk mencari tahu, sedangkan pada kemungkinan ketiga keluarga sama sekali tidak tergerak untuk melakukan sesuatu. Keluarga tidak memiliki pengetahuan tentang “kondisi yang berbeda” sejak individu dilahirkan sehingga tidak memiliki inisiatif untuk lebih mencari tahu. Atau, keluarga sepintas mengetahui ada perbedaan perkembangan dari individu lainnya, namun tidak tergerak untuk mencari solusi. Di sinilah muncul pembiaran dan sangat mungkin individu tidak mendapatkan haknya untuk berkembang optimal. Perlakuan pada individu cenderung disamakan dengan individu pada umumnya.

Tantangan yang lain ialah jumlah individu berkebutuhan khusus baik berusia anak maupun dewasa (pada umumnya disebut dengan penyandang disabilitas) tidak sebanyak orang pada umumnya. Fasilitas fisik non fisik di masyarakat juga kurang ramah dengan kebutuhan penyandang disabilitas itu sendiri sehingga penyandang disabilitas mendapat kesulitan dalam menggunakan fasilitas umum. Semua tantangan itu ibarat tembok penghalang bagi penyandang disabilitas untuk membaur dalam masyarakat.

Menjunjung keberagaman berarti membongkar tembok penghalang yang ada. Diperlukan upaya-upaya mendobrak batasan-batasan itu. Dobrakan memang sudah dilakukan, dan masih perlu dilakukan. Saatnya, dobrakan juga dilakukan dari masyarakat itu sendiri. Bagaimana hidup selaras, serasi, dan seimbang  dalam masyarakat terwujud? tentu saja pemahaman atas individu berkebutuhan khusus sangat diperlukan. Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah dalam memberikan wawasan bagi masyarakat ialah menghadirkan Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus bagi Pendamping yang dikeluarkan Kementerian PPPA. Panduan ini ditujukan bagi orang tua, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Panduan ini berisi gambaran umum tentang pengertian dan ciri-ciri yang dapat diamati pada individu berkebutuhan khusus (anak berkebutuhan khusus) dan hal-hal yang dapat dilakukan secara umum maupun khusus bila menemui individu berkebutuhan khusus. Panduan tersebut lebih detil dapat di lihat di sini.

Perbedaan bukan suatu hal yang bisa dihindari. Perbedaan menciptakan keberagaman dan keberagaman kaya akan nilai saling menghormati, menghargai, dan memahami. Dalam kehidupan yang “ramai”, selaras, serasi, dan seimbang adalah bentuk kehidupan yang akan diraih. 

Membutuhkan sharing partner atau konsultasi layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus? kami terbuka untuk berbagi dengan anda. Hubungi kami!

gambar: www.pinterest.com

0 comments