ArtikelWawasan

Memanusiakan Mereka yang Mengalami Hambatan Intelektual

Oleh: Emma Mar’atul Uswah

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia memiliki  kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Namun, masih ada saja manusia yang mendiskriminasi sesamanya hanya karena kekurangan yang dimilikinya seperti yang dialami oleh penyandang tunagrahita. Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap mereka?

Setiap manusia dikatakan makhluk yang sempurna diantara segala makhluk di bumi karena ia memiliki akal, nafsu dan perasaan. Tiap manusia juga diberikan berbagai kelebihan dan kekurangan dalam dirinya, baik secara fisik maupun mental. Semua itu tidak  dimaksudkan untuk menjadikan meninggikan atau merendahkan manusia yang lain. Namun, tetap saja ada manusia yang bersikap sombong dengan mendiskriminasi seseorang hanya karena perbedaan kemampuan yang dimilikinya.

Seseorang dengan kekurangan seperti penyandang hambatan intelektual juga mempunyai perasaan dan kemampuan dalam berpikir walaupun hanya dalam kadar tertentu. Mereka juga merupakan seorang manusia yang butuh untuk dihargai, dihormati, diakui keberadaannya dalam masyarakat. Pada tahun 2018 lalu, mengutip dari berita harian Suara Merdeka (https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/70548/pelecehan-seks-timpa-tunagrahita), di daerah Temanggung terjadi pelecehan seks yang menimpa tiga anak perempuan penyandang hambatan intelektual, yang lebih miris ialah pelaku kejahatan tersebut merupakan keluarga dekat korban. Apa yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa semacam itu?

 

Kenali Mereka

Menurut Nunung Apriyanto (2012 : 27) dalam Farrahisa, tunagrahita atau penyandang hambatan intelektual adalah mereka yang kecerdasannya jelas dibawah rata-rata. Anak dengan hambatan intelektual cenderung mengalami kesulitan dalam menangkap pelajaran dan  juga sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Mereka kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang abstrak, dan sulit,  serta berbelit-belit. Sehingga penyandang ttunagrahita cenderung kurang atau tidak berhasil  mengatasi satu bahkan lebih permasalahan kehidupan, baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka panjang.

Anak dengan hambatan intelektual juga memiliki beberapa karakteristik tertentu dari segi karakteristik kognitif dan bahasa, karakteristik fisik dan motorik, serta karakteristik pribadi dan sosial. Beberapa karakteristik ini terkadang tidak dipahami oleh orang tua, maupun orang-orang di sekitar kehidupan seorang anak dengan hambatan intelektual.

Jika dilihat dari segi karakteristik pribadi dan sosial, menurut Reiss, et.al (1977) mengatakan bahwa anak dengan hambatan intelektual sebenarnya juga mempunyai kebutuhan untuk berhubungan sosial seperti anak normal lainnya. Akan tetapi, anak mengalami kesukaran, dan mendapat kegagalan dalam penyesuaian sosial. Anak dengan hambatan intelektual ditolak oleh sekelompok anak normal, akibatnya anak akan menjadi frustasi, memberontak, dan menentang.

Anak dengan hambatan intelektual juga mempunyai kebutuhan akan rasa aman, dicintai dan dihargai sama seperti manusia lainnya. Oleh karena itu, kasih sayang orang tua sdan lingkungan sangatlah penting bagi mereka. Reiss,et.Al (1997) mengatakan bahwa  anak dengan hambatan inteletual sering mengalami gangguan emosi dan masalah-masalah perkembangan emosi sehubungan dengan kemampuannya yang rendah.  Sehingga perilaku emosi yang dinampakkan oleh anak tunagrahita adalah agresif, marah (meledak-ledak), takut, cemas, dingin, implusif, lancang dan merusak. Anak dengan hambatan intelektual juga mempunyai penghayatan terbatas. Mereka tidak mampu mengungkapkan rasa bangga dan kagum, kepribadian mereka kurang dinamis, mudah goyah, kurang menawan, dan tidak berpandangan luas.

Ketidakpahaman orang tua serta cara pandang masyarakat yang salah kerap kali menempatkan anak dengan hambatan intelektual pada posisi yang kurang mengenakkan. Tak sedikit orang yang menganggap anak dengan hambatan intelektual merupakan suatu akibat maupun beban. Sehingga  banyak orang yang tidak memperdulikan perkembangan anak tersebut. Bahkan tak sedikit anggota masyarakat yang bersikap  acuh tak acuh ketika anak tunagrahita mendapatkan tidakan yang salah atau tidak manusiawi.  Padahal mereka yang berkebutuhan khusus juga mempunyai perasaan dan dapat berpikir, hanya saja diciptakan dengan keterbatasan dan keistimewaan yang berbeda.

 

Hadirnya Keresahan

Anak merupakan anugerah yang sangat berarti bagi orang tua karena anak merupakan lambang pengikat cinta kasih kedua orang tuanya. Apapun dilakukan oleh orang tua bagi anaknya, baik  dengan untuk tujuan menjaga dan memenuhi kebutuhan anak, maupun memfasilitasi anaknya agar dapat berkembang secara optimal. Orang tua  juga merupakan guru pertama yang dikenal oleh anak. Seorang anak dapat mengenal bagaimana cara makan, berpakaian dan membersihkan diri dengan benar lewat kedua orang tuanya.

Namun, terkadang hidup mempunyai jalan yang berbeda bagi masing-masing orang tua. Jika anak yang didamba lahir dalam keadaan kurang atau mengalami hambatan intelektual, maka berbagai pertanyaan pun akan muncul di benak mereka seperti, “Apa yang harus dilakukan untuk membesarkan anakku?” Atau, “Bagaimana aku menghadapi dunia bila aku mempunyai anak demikian?”

Sebagian besar  orang tua banyak yang merasa malu. Bahkan ada pula orang tua yang malah menyembunyikan anak yang mempunyai hambatan intelektual tersebut. Mereka menganggap bahwa hal itu adalah aib yang tidak pantas untuk diperkenalkan kepada khalayak ramai. Pemikiran demikian akan muncul akibat miskinnya pengetahuan orang tua tentang bagaimana cara merawat anak mereka.

Atau ada pula orang tua yang salah kaprah dengan memberikan segala kasih sayangnya kepada sang anak dengan cara membantu segala aktivitas anak. Orang tua yang demikian tidak mengetahui bahwa hal tersebut malah menambah kecacatan anak di masa depannya. Anak menjadi tidak mandiri, dan sangat bergantung kepada kedua orang tuanya.

Penerimaan masyarakat terhadap anak dengan hambatan intelektual juga sangatlah rendah, kebanyakan acuh dan cenderung menolak bahkan menjauhi anak-anak dengan hambatan intelektual. Hal ini juga dikarenakan minimnya pengetahuan mereka tentang anak dengan hambatan intelektual,

Pada dasarnya anak dengan hambatan intelektual memang sulit dalam berbaur dengan masyarakat. Namun hal itu tak berarti mereka tidak mau bergaul. Anak tunagrahita juga mempunyai keinginan untuk diterima dan diakui keberadaannya di tengah masyarakat. Bahkan ada orang-orang di sekitar kehidupan anak dengan hambatan intelektual yang memanfaatkan kekurangan mereka untuk keuntungan pribadi, bahkan sampai menodai harga diri anak. Hal-hal ini sangat miris karena terjadi berulang kali, terutama di Indonesia.

 

Memanusiakan Manusia

Indonesia merupakan negara yang menjamin hak-hak tentang perlindungan khusus bagian anak penyandang disabilitas, yaitu dalam peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia nomor 4 tahun 2017. Di dalamnya disebutkan bahwa negara akan bertindak cepat untuk penyandang disabilitas yang menjadi korban kekerasan. Artinya, anak dengan hambatan intelektual dijamin dan dilindungi negara. Negara sudah mengupayakan sampai membuat peraturan demikian, harusnya masyarakat mendukung terlaksananya pertaurantersebut dengan optimal.

Sikap menerima, dan mengerti kekurangan mereka serta merespon sikap mereka dengan benar merupakan salah satu cara sederhana untuk menghargai mereka. Tidak hanya mencegah munculnya sikap adaptif, namun melatih mereka dalam mengambil sikap dalam hubungan sosial.       Orang tua juga tidak perlu selalu over dalam menjaga anak tunagrahita. Cukup dengan memberikan mereka penguatan, kepercayaan dalam melakukan sesuatu dapat menambah kemandirian sang anak penyandang hambatan intelektual. Anak-anak dengan hambatan intelektual yang mendapat respon dengan benar dari lingkungan dan orang tua, akan membuat mereka lebih mandiri, tidak menambah kecacatan (hambatan intelektual) mereka, dan membuat hidup mereka merasa dimanusiakan sesama manusia.

*) Emma Mar’atul Uswah, mahasiswa FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta

Editor: Susana Febryanty

 

Sumber referensi :

http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-pendidikan-luar-sekolah/article/viewFile/13241/12156

http://eprints.uny.ac.id/15823/1/SKRIPSI%20TRIYANI%20.pdf

http://staffnew.uny.ac.id/upload/1323

http://journal.student.uny.ac.id/ojs/ind

http://publication.gunadarma.ac.id/bit

http://publication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1949/1/Artikel_10504152.pdf

https://media.neliti.com/media/publications/120591-ID-none.pdf

http://pinplb.com/refleksi-hari-disabilitas-internasional-mewujudkan-negeri-yang-memanusiakan-disabilitas/

 

 

0 comments