Praktisi Berbagi

Mendeteksi Masalah Gangguan Pekembangan Emosi pada Anak (Bagian 2)

Oleh: Ami Prayogo

Anak merupakan kertas produk dari pembentukan lingkungan sekitarnya.  Berbagai perilaku yang ditampilkan oleh orang tua, sekolah dan pergaulannya sehari-hari akan mempengaruhi si anak di kemudian hari. Lalu, bagaimana pula dengan Lucky? Seperti apakah keseharian anak tersebut?

 

Aktivitas Keseharian

Sepulang sekolah, Lucky mengisi waktu dengan menonton TV, menonton Youtube di handphone, mewarnai, menggambar, bermain, atau les privat. Paling sering adalah menonton tayangan di Youtube. Menurut sang nenek, Lucky sangat senang menggunakan handphone. Anak itu bisa berjam-jam berkutat dengan ponselnya. Lucky punya jadwal les sore hari 5 pertemuan dalam satu minggu. Termasuk sesi dengan saya.

Untuk pergaulan sehari-hari, Lucky tidak bergaul dengan teman di area rumahnya. Hal ini dikarenakan rumahnya berada di pinggir jalan kampung  di perkotaan. Lucky hanya bergaul dengan teman sebaya yang dikenalnya di sekolah atau saat saudaranya yang datang ke rumah, dan ketika ia ikut mengunjungi rumah saudaranya. Satu ketika, ia pernah ikut TPA di masjid dekat rumahnya. Tapi setelah itu, dia tidak mau lagi ke sana. Hal ini dikarena perkataan seorang anak yang mengatakan, ”Nanti ku sunat lho kamu!”. Dia merasa takut dengan ancaman itu. “Ada yang nakal”  demikian pengakuan Lucky.

Saat pertemuan pertama dengan kedua orang tua Lucky, mereka belum terbuka mengenai kebutuhan belajar Lucky. Berbagai pertanyaan yang saya ajukan pada orang tua Lucky terkait kemampuan emosi, sosial, dan interaksi didominasi dengan jawaban ‘tidak’ oleh kedua orang tua. “Biasa saja,” kata Ayah dan ibunda Lucky secara bergantian. Seolah Lucky tidak bermasalah, tidak perlu intervensi khusus.

Sejujurnya, saya pun menjadi bingung mendapati penyataan orang tua yang tidak sesuai dengan pernyataan pihak sekolah.  Orang tua pun berbalik menanyai saya tentang informasi apa saja yang disampaikan oleh pihak sekolah. Saya merasa ada yang tidak wajar dari sikap orang tua Lucky. Ekspresi acuh  yang ditunjukkan oleh sang ibu saat bertemu penulis. Ia pun sebentar-sebentar melihat pada suaminya. Sementara sang ayah  kerap kali menutupi mulut membuat saya tambah curiga. Seolah orang tua Lucky dan pihak sekolah berselisih pendapat.

Sikap orang tua Lucky pun saya relasikan dengan sikap Psikolog Sekolah dan guru BK yang agak aneh ketika saya bertemu dengan mereka sebelum bertemu dengan kedua orang tua Lucky. Psikolog dan guru BK saling berpandangan dan tertawa kecut ketika mengetahui orang tua Lucky sempat meminta jadwal pertemuan dengan saya diundur. Akhirnya saya pun menarik kesimpulan bahwa ada penolakan dari pihak orang tua. Sikap menolak tersebut bisa saja karena mereka merasa anaknya tidak bermasalah. Ada kemungkinan orang tua tak mau disalahkan, entah cara pihak sekolah  dalam menyampaikan yang kurang bisa diterima oleh orang tua, atau memang mereka sudah merasa masalah ini seharusnya selesai di sekolah, sebab komplain timbulnya dari sekolah. bukan di rumah. Begitulah sikap dari orang tua  Lucky pertama kali kami bertemu.

Perkenalan

Pada hari pertama saya berkenalan dengan Lucky, ia menundukkan kepala sambil duduk di sofa. Saya menyalaminya dan bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab dengan suara agak lirih, wajah melihat ke lantai. Mulutnya agak manyun. “Ludi?” tanya saya meyakinkan. “Lucky!” jawabnya dengan suara lebih keras dan terdegar membentak. “Oh, Lucky. Suaranya pelan sih, jadi kurang jelas terdengar,” kata saya memberi penjelasan. “Kelas berapa?” tanya saya lagi. Mamanya menjawab, “Kelas 2.” “Kelas 3!” Lucky mengoreksi Mama dengan nada tinggi. “Oh iya, sekarang sudah kelas 3,” kata Mama. Tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga datang membawa secangkir teh hangat untuk saya. “Aku juga mau teh!” seru Lucky. Mama pun meminta si mbak membuatkan teh untuknya. Lucky duduk dengan posisi kaki dinaikkan di sofa. Seperti orang di angkringan. Tak lama kemudian, dia masuk ke ruang keluarga, meninggalkan saya dan Mama untuk mengobrol lebih lanjut di ruang tamu.

Kira-kira seperti apa ya kelanjutan kisah Lucky? Apakah dia bersedia untuk diintervensi atau malah melakukan penolakan? Anda pastinya penasaran dengan kelanjutan kisah ini. Jadi, biar tak semakin penasaran ikuti terus kelanjutannya di edisi berikutnya. Jangan sampai ketinggalan…!

*Editor: Susana Febryanty

 

0 comments