ArtikelPraktisi Berbagi

Mendeteksi Masalah Gangguan Pekembangan Emosi pada Anak

 

Oleh: Ami Prayogo

Memiliki anak yang sehat dan pandai tentunya menjadi dambaan setiap orang tua. Namun terkadang persoalan datang tanpa diminta. Anak yang menjadi harapan malah bersikap seenaknya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Lalu, tindakan apakah yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut?

Sebagai seorang guru Pendidikan Luar Biasa saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk memberikan intervensi secara privat pada seorang anak laki-laki berusia 8 tahun. Sebut saja anak itu Lucky. Secara fisik ia adalah anak yang normal, sama seperti kebanyakan anak seusianya. Lucky bersekolah di salah satu SD Islam Terpadu yang bertaraf internasional di Yogyakarta.

Secara intelektual, Lucky diberkahi kemampuan kognitif yang sangat baik. Bahkan dari hasil hasil tes Psikologi skala WISC, ditemukan bahwa keceradasan Lucky termasuk kategori di atas rata-rata. Bahkan berdasarkan asesmen psikologis yang penulis dapatkan dari pihak Psikolog Sekolah dinyatakan bahwa Lucky memiliki kemampuan yang sangat baik dalam berlogika. Namun, permasalahan apa yang sebenarnya dialami oleh anak ini?

Pengumpulan Data

Siapa sangka dibalik kecerdasan intelektual seoarang Lucky, ia memiliki beberapa persoalan. Menurut Psikolog Sekolah, skor kecerdasan verbal ucky lebih rendah daripada kecerdasan performanya. Dari hasil analisa psikologis tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketimpangan skor tersebut menandakan adanya kebutuhan khusus bagi Lucky. Terutama dalam hal konsentrasi, ketelitian, pemahaman konsep diri, dukungan lingkungan sekolah dan rumah agar dapat berkembang dengan optimal. Analisa psikologis itu yang kemudian menjadi salah satu bahan saya untuk menyusun program intervensi bagi Lucky.

Selain itu, saya juga menggali berbagai informasi seputar Lucky dari guru BK, rapor dan orang tua Si Anak. Menurut guru BK, Lucky memiliki masalah dalam sikap sosial. Lucky sangat memahami apa yang baik dan tidak. Ia juga memiliki empati pada kejadian di kelas. Sayangnya Lucky mudah marah, menyalahkan teman, suka mengungkit-ungkit masa lalu, tidak mau meminta maaf ketika membuat salah. Semua sikap itu telah menimbulkan hambatan dalam hubungan pertemanan di kelas. Laporan perkembangan dari pihak sekolah pun menyatakan bahwa Lucky memiliki ide yang original dan cenderung kreatif. Sayangnya, untuk menyelesaikan satu tugas, sering kali Lucky tidak fokus. Dia cenderung tidak mengikuti aturan yang ada.

Sementara itu berdasarkan rapor, ditemukan catatan bahwa ketika kelas 1, Lucky perlu belajar untuk menunggu giliran.  Untuk saat ini, Lucky yang duduk di kelas 3 sudah lebih baik dalam menunggu giliran. Setelah mendapatkan informasi dari pihak sekolah, saya memiliki gambaran bahwa Lucky memiliki kebutuhan belajar yang berkaitan dengan pengendalian emosi dan kemampuan untuk menyelesaikan kegiatan belajar dari awal sampai akhir. Namun saya sendiri belum bertemu dengan Lucky secara langsung waktu itu. Tidak adil  rasanya jika saya langsung mengamini informasi sementara yang telah saya peroleh. Untuk melengkapi bahan dasar pembuatan program intervensi, saya pun segera mengatur jadwal  untuk bertemu orang tua anak tersebut. Walaupun sempat mengalami hambatan karena beberapa kali pertemuan yang telah dijadwalkan sempat tertunda oleh karena kesibukan ayah Lucky.

Gambaran Keluarga           

Akhirnya waktu yang ditentukan untuk pertemuan dengan Lucky dan keluarganya pun tiba. Ayah Lucky adalah seorang pendidik di salah saru perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Ia sering bepergian dan melakukan tugas di luar kota. Sementara sang ibu,  bekerja si salah satu BUMD di kota yang sama. Keduanya dapat dikatakan sangat sibuk.

Lucky tinggal serumah dengan kedua orang tua, neneknya, dan beberapa asisten rumah tangga. Kurang lebih ada 4 orang asisten rumah tangga yang memiliki tugas berbeda-beda di rumah tersebut. Satu orang bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Satu orang lagi ditugaskan untuk mengasuh dan mengurus keperluan adik Lucky yang baru berumur beberapa bulan. Satu orang asisten rumah tangga secara khusus bertugas mengurus keperluan sehari-hari Lucky. Sementara asisten rumah tangga lainnya bertugas sebagai supir anak dan membantu urusan usaha keluarga neneknya. Rumah Lucky berada persis di pinggir jalan yang dilalui kendaraan bermotor. Itulah salah satu alasan Lucky jarang bermain di luar rumah.

Baru membaca sekilas tentang gambaran anak dan keluarganya sudah membuat kita penasaran. Tapi untuk mengetahui kisah lengkapnya Anda harus bersabar dulu. Agar tidak semakin penasaran sebaiknya Anda ikuti kelanjutannya di edisi selanjutnya. Ayo, ikuti terus kelanjutannya…!

*Editor: Susana Febryanty

0 comments