Picture1

Mengenal Penyandang Hambatan Fisik

Posted on Posted in Artikel

Salah satu kondisi yang ditemui pada ABK (anak berkebutuhan khusus) adalah hambatan fisik yang dikenal dengan istilah tunadaksa. Kondisi tunadaksa lebih mudah diketahui karena nampak pada tubuh seseorang dan dapat diamati secara langsung. Hambatan fisik ini terjadi karena adanya kelainan pada sistem otak serta sistem otot dan rangka. Karena adanya kelainan pada sistem otak, yang kita ketahui bahwa otak adalah pusat komando dalam tubuh manusia, maka penyandang hambatan fisik mengalami kesulitan untuk bergerak. Kesulitan dalam bergerak tentu saja menyulitkan seseorang untuk melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk untuk berpindah tempat (mobilitas) dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Tidak hanya pada kemampuan bergerak, kemampuan lainnya yang diatur oleh sistem otak juga dapat terganggu. Gangguan yang kompleks tidak selalu terjadi pada orang yang mengalami kondisi tunadaksa. Semua itu tergantung letak terjadinya gangguan.

Kondisi ketunadaksaan terjadi karena berbagai hal yang menimbulkan kerusakan pada sistem otak, jaringan sumsum tulang belakang, dan sistem musculus skeletal (otot dan rangka). Hal-hal penyebab kerusakan dapat terjadi pada saat dalam kandungan, proses kelahiran, dan masa seletah dilahirkan. Penyebab kerusakan saat dalam kandungan dikarenakan oleh infeksi yang menyerang otak bayi, kelainan kandungan yang menyebabkan peredaran terganggu sehingga merusak pembentukan syaraf-syaraf di dalam otak, radiasi, dan trauma (kecelakaan) yang menyebabkan benturan keras. Penyebab pada saat kelahiran antara lain proses kelahiran yang terlalu lama sehingga bayi kekurangan oksigen dan menyebabkan jaringan syaraf otak mengalami kerusakan, pemakaian alat bantu berupa tang sehingga dapat merusak jaringan syaraf otak pada bayi, pemakaian anestasi yang melebihi ketentuan. Setelah proses kelahiran, seseorang dapat mengalami tunadaksa karena kecelakaan yang mendorong dilakukannya amputasi (pemotongan bagian tubuh), infeksi penyakit yang menyerang otak, dan anoxia/hypoxia (kondisi kekurangan oksigen pada jaringan tubuh manusia).

Jenis kondisi tunadaksa digolongkan berdasarkan letak terjadinya kelainan, yaitu kelainan sistem cerebral (otak) dan kelainan sistem otot dan rangka. Tunadaksa dengan kelainan sistem cerebral (otak) mengalami gangguan pada sistem saraf pusat sehingga disebut dengan istilah cerebral palsy. Cerebral palsy ditandai oleh adanya kelainan gerak, sikap atau bentuk tubuh, gangguan koordinasi gerak tubuh, kadang-kadang disertai gangguan psikologis dan sensoris (berkaitan dengan panca indra). Kondisi cerebral palsy ada yang ringan, sedang, dan berat. Orang yang mengalami cerebral palsy ringan dapat berjalan tanpa menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Penyandang cerebral palsy sedang membutuhkan perlakuan atau latihan khusus untuk membantu agar dapat bicara, berjalan, dan mengurus dirinya sendiri. Tentu saja tipe cerebral palsy ini memerlukan peralatan khusus untuk membantu gerakannya. Misalnya brace digunakan untuk membantu penyangga kaki. Kruk/tongkat digunakan sebagai penopang dalam berjalan. Pada tipe cerebral palsy berat, dalam melakukan kegiatan sehari-hari sangat membutuhkan bantuan orang sekitar. Oleh karena itu pada tipe ini sulit untuk hidup mandiri di kehidupan masyarakat.

Jenis kondisi tunadaksa dengan kelainan sistem otot dan rangka ada 3, yaitu muscle dystrophy (MD), poliomyelitis, dan spina bifida. Musle dystrophy atau muscular dystrophy merupakan gangguan genetik yang menyebabkan kerusakan fungsi dan kekuatan pada otot secara progresif (semakin parah). Semakin lama kondisi fisik penyandangnya semakin menurun. Biasanya orang yang mengalami MD hanya  bertahan sampai masa usia dewasa awal. Jenis lainnya yaitu kelumpuhan karena serangan virus polio yang sering disebut dengan istilah poliomyelitis. Poliomyelitis ditandai dengan adanya otot yang layu, lembek, dan mengecil. Spina bifida merupakan kelainan tulang belakang yang berupa terbukanya satu atau tiga ruas tulang belakang dan tidak tertutup kembali selama proses perkembangan. Kelainan tulang belakang ini terjadi sejak dalam kandungan. Mengingat tulang belakang adalah bagian dari sisem syaraf pusat manusia, terbukanya ruas tulang belakang tersebut menyebabkan gangguan pada organ tubuh lainnya sesuai syaraf manakah yang ruasnya terbuka.

Sebenarnya, ada banyak lagi tipe kondisi hambatan fisik dari kedua pengelompokan kondisi tunadaksa di atas. Masing-masing jenis memiliki tipe yang khusus sesuai tingkat keparahannya atau letak terjadinya gangguan. Tipe-tipe tersebut akan dibahas pada artikel tersendiri yang membahas masing-masing tipe cerebral palsy, muscle dystrophy, poliomyelitis, dan spina bifida. (Ami)

0 comments