Peristiwa

Pelayanan Iman Bagi Umat Berkebutuhan Khusus

Mengenal Tuhan dan beribadah pada-Nya merupakan hak bagi setiap orang tanpa terkecuali. Namun tak sedikit dari penyandang difabel yang mengalami hambatan dan kesulitan untuk melakukan ritual peribadatannya. Lantas, apakah hal itu harus dibiarkan terus terjadi? Bagaimana peran gereja untuk menjawab kebutuhan mereka yang difabel?

Kebutuhan untuk mengenal Sang Pencipta adalah kebutuhan dasar setiap manusia yang hidup di dunia. Begitu juga dengan para penyandang difabel. Namun sayangnya, keterbatasan fisik dan berbagai alasan sosial lainnya kerap kali menjadi hambatan bagi mereka yang difabel untuk datang dan beribadah sebagaimana mestinya.

Melihat kebutuhan yang sangat besar dari umat yang berkebutuhan khusus inilah yang kemudian menjadi alasan bagi Keuskupan Agung Semarang untuk mengadakan “Perayaan Sakramen Inisiasi bagi Umat Berkebutuhan Khusus” pada tanggal 12 Desember 2018. Ibadah ini dilaksanakan di Gereja Santo Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta dengan mengambil tema, “Every One is Special”.

 

Umat yang Istimewa

 

Ketua Panitia Perayaan Sakramen Inisiasi bagi Umat Berkebutuhan Khusus  2018,  Widi Astuti mengatakan bahwa, “Tujuan dari penyelenggaraan kegiatan ini supaya inklusifitas antar masyarakat semakin meningkat. Memang masyarakat kita sudah mulai inklusif, tapi kami berharap dengan adanya kegiatan ini cara pandang masyarakat terhadap umat berkebutuhan khusus akan semakin inklusif, serta semakin bersahabat dengan mereka yang berkebutuhan khusus.” Ia pun berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi dan menjadi bagian dari semua masyarakat untuk ikut berjuang bersama mewujudkan masyarakat yang inklusif.

Acara ini telah berhasil menjaring banyak peserta hingga mencapi jumlah 248 orang penyandang difabel. Penyandang difabel dari berbagai rentang usia ikut di dalam peribadatan tersebut, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan lansia. Berbagai umat berkebutuhan khusus dari tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, autis, serta tuna ganda menjadi peserta acara tersebut. Asal mereka pun beragam. Ada yang berasal dari DI. Yogyakarta, Solo, Sragen, Samarinda, Tangerang, Jakarta, Surabaya, Bali, Samarinda, dan juga Sorong.

Peribadatan ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Pada kegiatan ini Bapak Uskup memberikan Sakramen Pembaptisan, Sakramen Peguatan (Krisma), dan Sakramen Ekaristi pada setiap penyandang difabel dan keluarga yang mendampinginya. Namun sebelum pemberian berbagai Sakramen tersebut, dibacakan sebuah ayat Alkitab yang terambil dari Matius 18: 12-15.

Dengan mengutip bacaan Alkitab yang dibacakan sebelumnya, Mgr. Robertus Rubiyatmoko menyampaikan sejumlah pesan pada setiap umat yang hadir. Menurut Uskup Robertus, “Anak-anak difabel  adalah anak-anak yang istimewa. Melalui ayat bacaan hari ini, Yesus memanggil anak-anak istimewa ini dengan cara yang istimewa untuk mendapatkan rahmat-Nya”. Uskup Robertus meminta pada orang tua agar tidak malu dan putus asa dalam mendidik anak-anaknya yang istimewa.

 

Saat kegiatan peribadatan hampir usia, kembali Bapak Uskup memberikan pesan bagi orang tua dan penyandang difabel. Katanya, “Kami mengharapkan orang tua dan anak-anak istimewa ini bisa terus terlibat dalam kegiatan kerohanian yg ada di Parokinya masing-masing”. Ia pun berharap bahwa kegiata-kegiatan semacam ini bisa berlanjut di paroki-paroki setempat.

Setelah rangkaian ibadah tersebut selesai, diadakan pula kegiatan ramah tamah. Antar umat berkebutuhan khusus dan keluarga serta pihak panitia penyelenggara acara berbaur menjadi satu dalam suasana keakraban. Dalam kegiatan ramah tamah itu juga ditampilkan beberapa pertunjukan seni musik dan nyanyian oleh beberapa penyandang difabel.

 

* Reporter dan Penulis: Susana Febryanty

*Editor: Susana Febryanty

 

0 comments