ArtikelPeristiwa

Refleksi Hari Disabilitas Internasional: Mewujudkan Negeri yang Memanusiakan Disabilitas

Oleh: Susana Febryanty

Tak ada satu pun makhluk di dunia yang sempurna. Namun masih ada saja manusia yang memperlakukan sesamanya yang memiliki perbedaan kemampuan dengan tidak semestinya. Padahal setiap insan memiliki hak hidup yang sama di negeri ini. Lalu, bagaimana seharusnya kita memperlakukan individu yang berbeda kemampuan?

Penyelenggaraan Asian Para Games pada bulan Oktober 2018 yang lalu seakan membuka kesadaran masyarakat kita akan keberadaan kaum disabilitas yang menjadi bagian dari bangsa ini. Selama ini kita terlalu sibuk dengan urusan dan kepentingan masing-masing dan enggan untuk memperhatikan keberadaan mereka di masyarakat. Apakah yang menjadi penyebab dari ketidakpedulian tersebut?

Pada kenyataannya, kehidupan ini tak mudah untuk dijalani. Hari demi hari dilalui dengan perjuangan untuk bertahan hidup. Terlebih bagi disabilitas. Bahkan usaha yang demikian kerasa harus mereka lewati kala menempuh pendidikan maupun menemukan pekerjaan yang dapat memberikan penghidupan bagi kehidupan mereka. Lalu, apa yang dapat kita lakukan agar disabilitas dapat membangun kehidupan yang lebih layak lagi?

Benang Kusut

Seperti yang kita ketahui, sejak tahun 1992, setiap 3 Desember  seluruh dunia memperingati Hari Disabilitas Internasional. Pencanangan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan dan penghargaan masyarakat dunia terhadap keberadaan para penyandang disabilitas serta hak-hak, martabat dan kesejahteraan mereka. Hari Disabilitas Internasional ini juga menjadi momentum yang baik bagi masyarakat internasional untuk lebih peduli dan menuntaskan berbagai persoalan yang dialami oleh para penyandang disabilitas tersebut.

Namun seringkali peringatan yang terselenggara menjadi sekedar seremoni semata. Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah seolah tak bergaung. Tetap saja penyandang disabilitas bergelut dengan kesulitan mencari pekerjaan. Data Bappenas (https://m.suara.com/health/2018/08/15/133000/baru-25-persen-penyandang-disabilitas-di-indonesia-yang-mandiri)  pada tahun 2018 menunjukkan bahwa hanya sebanyak 25 persen dari 21 juta penduduk Indonesia yang menjadi penyandang disabilitas yang bekerja di sektor formal dan informal.

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi hak-hak penyandang disabilitas, misalnya dengan mengeluarkan berbagai peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan disabilitas. Selah satunya UU No. 8 tahun 2016 yang mewajibkan bagi setiap perusahaan atau lembaga untuk menerima penyandang disabilitas minimal 2 persen dari jumlah karyawannya. Tetapi faktanya di lapangan banyak perusahaan yang belum menerapkan kebijakan pemerintah tersebut.

Ada beberapa hal yang ditengarai menjadi alasan mengapa masyarakat seolah menutup mata akan nasib para penyandang disabilitas ini. Hal tersebut biasanya berkaitan dengan stigma negatif dan persepsi yang salah mengenai persoalan disabilitas ini. Salah satunya ialah disabilitas  masih dipandang sebagai aib atau sumber persoalan.

Rendahnya pendidikan dan minimnya pengetahuan masyarakat mengenai penyandang disabilitas yang menjadi penyebab kesalahan persepsi tersebut. Sehingga masyarakat pun seolah menjadi kurang ramah terhadap disabilitas. Alhasil tak sedikit dari masyarakat masih saja berusaha untuk menghindari penyandang disabilitas.

Namun ada pula yang beranggapan bahwa penyandang disabilitas merupakan ‘korban’ dari ketidaksempurnaan fisik maupun mentalnya. Akibatnya masyarakat lebih suka berderma dengan memberikan bantuan materi pada penyandang disabilitas. Hal itu dianggap jalan keluar terbaik untuk membantu kaum disabilitas. Padahal, pemberian materi atau bantuan yang sifatnya instan pada ahirnya hanya akan menimbulkan ketergantungan penyandang disabilitas terhadap bantuan tersebut. Hal inilah yang kemudian semakin membuat keadaan mereka semakin terpuruk dan tak berdaya dalam jangka panjang.

PR Besar

Sudah saatnya bagi pemerintah untuk bertindak tegas pada setiap lembaga untuk bisa menerapkan peraturan yang berkaitan dengan penyandang disabilitas. Dengan demikian tak ada lagi pihak yang bisa bermain-main dengan aturan. Begitu pun pihak swasta, seharusnya tak perlu ragu lagi untuk menerima penyandang disabilitas. Karena semangat yang dimiliki oleh disabilitas akan lebih menentukan performa kerjanya dibandingkan hambatan yang ada.

Selain itu, pembenahan pendidikan bagi penyandang disabilitas wajib untuk untuk dilakukan dengan segera. Karena masih banyak sekolah umum yang enggan untuk menerima penyandang disabilitas. Padahal pendidikan adalah satu-satunya solusi terbaik untuk memperbaiki nasib seseorang termasuk para penyandang disabilitas. Disabilitas yang bersekolah di sekolah umum tentunya akan belajar untuk membangun kepercayaan dirinya dan mentalitasnya untuk siap menghadapi dunia kerja.

Kondisi disabilitas tak seharusnya menjadi halangan bagi setiap orang untuk berperan dalam kehidupan bangsa ini. Pada kenyataannya, sejarah mencatat ada banyak penyandang disabilitas yang mampu mencatat prestasi di ajang nasional maupun internasional. Jadi tak ada alasan bagi kita untuk menghentikan langkah perjuangan para disabilitas.

Hari Disabilitas Internasional ini hendaknya dapat menjadi momentum bagi setiap elemen bangsa ini untuk bergandeng tangan saling membantu memajukan bangsa. Ingatlah, difabel bukanlah sebuah kecacatan melainkan suatu keistimewaan yang patut untuk disyukuri. Selamat Hari Disabilitas Internasional! Teteplah teguh dalam berjuang demi masa depan yang lebih baik.

0 comments