Sejarah

PInPLB atau Plaza Informasi Pendidikan Luar Biasa berdiri pada tanggal 6 Juni 2015 oleh alumni SI Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Yogyakarta. Ami Prayogo, dan Ellif Lintang Alviana mempunyai gagasan membuat layanan berbasis website yang menyediakan informasi pendidikan luar biasa secara terintegrasi berdasar pada pertimbangan kebutuhan dan keluhan para orang tua anak berkebutuhan khusus yang merasa kesulitan mendapatkan informasi layanan apa saja yang dapat diperoleh bagi anak berkebutuhan khusus.

Seringkali ditemui dari pengalaman sehari-hari ketika mendampingi anak berkebutuhan khusus di daerah Yogyakarta, orang tua kurang memahami kebutuhan anaknya yang berkebutuhan khusus. Ketidaktahuan ini mendorong orang tua mencari-cari informasi layanan yang dapat diperoleh untuk anak mereka tanpa mengenal arah. Kebingungan dan kepanikan sering dialami sehingga tak jarang berbagai jenis layanan ditempuh meski dengan biaya yang tinggi sekalipun, dan sayangnya layanan tersebut kerap kurang tepat. Kesulitan lain yang muncul adalah ketika anak berkebutuhan khusus harus memperoleh pendidikan dan orang tua tidak mengetahui pendidikan seperti apa yang dapat diberikan.

Pemerintah dalam hal perhatian pada anak-anak berkebutuhan khusus sudah menyelenggarakan pendidikan luar biasa. Namun sekali lagi, ketersediaan sekolah-sekolah luar biasa atau pun informasi tentang lembaga pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus itu pun belum dapat diketahui oleh masyarakat luas. Sehingga masih muncul pandangan negatif terhadap anak berkebutuhan khusus di masyarakat terlebih dikaitkan dengan hal-hal mistis dan pesimis terhadap kemampuan yang anak berkebutuhan khusus miliki.

Masalah pun belum berhenti disitu, ketika anak berkebutuhan khusus mendapatkan layanan pendidikan, ada beberapa proses sebelum mereka benar-benar menjadi peserta didik. Proses tersebut disebut dengan asesmen, pengumpulan data tentang anak untuk menentukan program pembelajaran yang tepat bagi masing-masing anak.

Proses tersebut harus betul-betul dipahami oleh orang tua. Karena dengan mengetahui adanya proses tersebut, orang tua diharapkan dapat berpartisipasi dan mendukung ditegakkannya asesmen agar program pendidikan yang diberikan dapat betul-betul bermanfaat bagi anak mereka. Proses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus pun berbeda dengan pada umumnya. Waktu yang dibutuhkan lebih panjang. Sebagian orang tua masih awam dengan semua proses pendidikan ini sehingga ditemui fenomena peserta didik tidak mengikuti program dengan konsisten.

Belum lagi bagi anak berkebutuhan khusus yang mengikuti pendidikan di sekolah inklusi juga membutuhkan guru bantu untuk mendampingi selama proses pembelajaran. Guru bantu bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi dewasa ini masih banyak yang dibebankan pada orang tua untuk mencari. Sebenarnya ada orang-orang yang bersedia menjadi guru pendamping, akan tetapi orang tua masih kesulitan untuk menemukan guru pendamping tersebut.

Jadi, antara orang tua anak berkebutuhan khusus, lembaga pemberi layanan bagi anak berkebutuhan khusus, dan orang-orang yang bersedia memberikan layanan pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus sudah ada namun belum saling terhubungkan. Oleh karena itu dirasa perlu adanya satu pihak yang menjadi penghubung semua pihak tersebut. Berdasarkan kondisi-kondisi itulah, terbentuklah gagasan untuk membentuk layanan infromasi tentang Pendidikan Luar Biasa yang diberi nama Plaza Informasi Pendidikan Luar Biasa.