mengemis

Sepotong Senja dan Disabilitas

Posted on Posted in Artikel, Wawasan

Senja jatuh di Malioboro.  Sebatang tiang listrik membelah matahari. Seorang penyandang disabilitas menengadahkan tangan, mengemis, tidak jauh dari lampu merah. Fenomena penyandang disabilitas yang melakoni pekerjaan sebagai pengemis dengan mudah bisa kita temukan di kota-kota besar di Indonesia. Memang kita tidak bisa menggeneralisir bahwa setiap penyandang disabilitas melakoni pekerjaan sebagai pengemis. Tidak sedikit penyandang disabilitas yang berdaya dan mempunyai pekerjaan dan kehidupan yang bermartabat di masyarakat. Tapi kenyataan yang terpapar di depan kita sering kali membuat kita miris, sedih, kecewa, sangat mungkin jengkel. Kenapa mereka mengemis? Apakah tidak ada pekerjaan lain yang lebih bermartabat untuk penyandang disabilitas? Kenapa tidak ada yang mengurus mereka? Kemana pemerintah sehingga membiarkan penyandang disabilitas mengemis di jalan-jalan?

Sesungguhnya persoalan disabilitas tidak bisa dilepaskan dari kondisi pendidikan di Indonesia. Carut marut pendidikan nasional sudah menjadi rahasia umum dimana tingkat kepandaian seorang murid diukur dengan angka. Bagaimana dengan penyandang disabilitas yang mempunyai keterbatasan fisik dan mental untuk dapat mencapai standar angka-angka yang mengindikasikan tingkat kepintaran seorang murid? Belum lagi kualitas guru yang tidak juga membaik dan prasarana sekolah yang tidak ramah penyandang disabilitas.

Menyoal disabilitas tidak bisa dilepaskan dari maindset, pola pikir. Bukan hanya maindset orang dalam memandang penyandang disabilitas, tapi juga maindset penyandang disabilitas sendiri sebagai pribadi yang punya potensi dan berdaya. Artinya, bagaimana pola pikir terhadap murid, khususnya terhadap penyandang disabilitas yang selama ini diumpamakan mengisi gelas kosong tanpa melihat potensi  yang dimiliki penyandang disabilitas, harus diubah. Model pendidikan gaya bank sebagaimana diungkapkan Paulo Freire dalam Teologi Pembebasan merupakan model pendidikan yang mengabaikan potensi yang dimiliki murid tidak tepat digunakan karena menempatkan murid hanya sebagai obyek. Sebaliknya pendidikan harus dapat melihat murid atau penyandang disabilitas sebagai pribadi yang unik dan punya potensi besar untuk terus tumbuh kembang.

Pendidikan formal –sekolah- telah gagal menciptakan kreator yang berdaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya. Pendidikan formal juga telah gagal membentuk pribadi yang berkarakter yang memiliki daya juang tinggi. Pendidikan di Indonesia hanya menciptakan pekerja yang berguna menjadi pelengkap dari mesin-mesin industri raksasa. Pemerintah melalui Undang-undang Nomor  4 Tahun 1997 menegaskan bahwa setiap perusahaan swasta yang  memiliki karyawan minimal 100 orang  dan kelipatannya, maka wajib memberikan kuota satu persen bagi tenaga kerja penyandang disabilitas. Namun dalam prakteknnya banyak perusahaan yang memperlakukan penyandang disabilitas diskriminatif. Lalu dimana tempat disabilitas dalam sistem produksi industri? Tidak cukup hanya undang-undang, tapi juga ketegasan pemerintah untuk menegakkan aturan ini sangat diperlukan. Hal terpenting diluar itu adalah kesadaran dari pihak industri untuk menempatkan penyandang disabilitas sebagai mahluk yang setara, karena itu keahliannya perlu diapresiasi dan dihargai dalam sistem produksi industri.

Diluar lembaga-lembaga pendidikan formal yang gagal membangun mental penyandang disabilitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas peduli disabilitas harus diakui juga memiliki peran yang tidak sedikit dalam upaya melakukan pendidikan untuk penyandang disabilitas. Namun yang harus diperhatikan, lembaga dan komunitas ini, melakoni semua kegiatan yang terkait disabilitas dengan dibiayai oleh funding atau dari donasi tuan baik hati. Oleh karena itu, mesti tidak semuanya, banyak kegiatan yang dilakukan cenderung karikatif. Dalam artian yang lebih luas, kegiatan yang mereka lakukan cenderung pemberian bantuan, bukan pemberdayaan. Sehingga penyandang disabilitas hanya ditempatkan sebagai obyek yang diberi. Bukan subyek yang punya daya dan punya potensi untuk berkembang. Bahkan seringkali bisa ditemukan, bantuan yang mereka terima bukanah bantuan yang mereka butuhkan. Akhirnya semua sia-sia. Dengan model pendidikan  seperti ini sebenarnya kalau kita cermati tidak berbeda dengan model pendidikan gaya bank sebagaimana yang disebutkan di atas. Gaya pendidikan celengan dimana institusi pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas peduli disabilitas sebagai pihak yang menabung tanpa peduli tabungan itu isi atau kosong. Sebuah pekerjaan yang sia-sia dan buang umur. Sayangnya siklus seperti ini diulang terus-menerus dan menjadi ritus pendidikan yang menyesatkan penyandang disabilitas sendiri.

Disabilitas merupakan kaum marjinal yang termarjinalkan. Menurut gagalnya pendidikan untuk menjadi kreator yang membuat penyandang disabilitas bisa berdikari menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan gagalnya pendidikan karakter sehingga membuat mental penyandang disabilitas lembek. Tidak bisa disalahkan jika dunia kerja menolak mereka, lingkungan sosial menyingkirkan mereka, dan untuk bertahan hidup penyandang disabilitas memilih lampu untuk menghidupi mereka. Itu jalan paling mudah untuk mempertahankan mereka. Tapi hal yang tidak kita pikirkan bisa saja terjadi, penyandang disabilitas memang malas kerja, malas bersaing di dunia kerja. Kemudian mereka memanfaatkan kondisi mereka di lampu merah dan berharap belas kasih orang. Bisa jadi begitu dan sangat mungkin begitu. Sejak lama persoalan yang dihadapi bangsa ini memang persoalan mental. Tidak hanya penyandang disabilitas, siapa saja, dimana saja dan diberbagai segi kehidupan kita menghadapi persoalan mental. Ya, mental.

Senja sore itu dan sebatang tiang listrik yang membelah matahari pasti akan semakin indah jika kita melihat penyandang disabilitas berdaya dan berdikari.

—– o0o—–

Gambar: affizarcorner.blogspot.com

Membutuhkan sharing partner atau konsultasi layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus? kami terbuka untuk berbagi dengan Anda. Hubungi Kami!

0 comments