blind

Siapakah Tunanetra?

Posted on Posted in Artikel

Anda pasti pernah melihat orang yang berjalan menggunakan tongkat dan berjalan seperti sedang meraba-raba? Mereka adalah orang yang punya ganguan penglihatan atau lebih dikenal dengan sebutan tunanetra (visual impairment). Gangguan penglihatan bisa berupa: katarak (kebutaan oleh selaput), glukoma, luka atau trauma pada mata, pertumbuhan pembuluh darah yang abnormal pada mata, dan juga degerdasi maskular atau penurunan fungsi mata. Istilah tunanetra yang sering kita dengar merupakan istilah yang sangat umum. Istilah tunanetra secara umum dipahami sebagai gangguan yang menjadikan kondisi mata mempunyai sisa daya penglihatan atau mata yang kehilangan daya penglihatan secara total. Sebenarnya istilah tunanetra hanya label yang gunanya untuk mempermudah para penyandang tunanetra mendapatkan fasilitas yang sama seperti orang pada umumnya. Tentu saja fasilitas yang didapatkan menyesuaikan kemampuan, keadaan, atau kebutuhan penyandang tunanetra itu sendiri.

Penyandang tunanetra mempunyai karakteristik yang khas namun berbeda-beda pada tiap individunya. Tergantung kapan dan bagaimana kondisi gangguan yang dimiliki pada mata. Ada dua gangguan yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tunannetra yaitu: ganngguan internal dan eksternal. Gangguan internal merupakan ganguan yang sudah ada sejak dalam kandungan, sedang gangguan eksternal merupakan gangguan yang terjadi pada saat kelahiran atau pada usia tertentu. Gangguan internal disebabkan oleh faktor genetik yang diwariskan orang tua, kondisi psikis ibu saat mengandung, keracunan dalam kandungan, virus yang menyerang saat masa kehamilan ataupun parasit jahat dan sebagainya. Sedangkan gamgguam eksternal disebabkan faktor kecelakaan yang melukai mata, terkena penyakit, rusaknya saraf penglihatan, dan saat proses kelahiran terjadi gangguan pada penggunaan alat bantu kelahiran atau virus tertentu.

tunanetrea
tunanetrea

Untuk mengetahui tingkat kebutaan seseorang harus melakukan tes snellen. Tes tersebut menggunakan lembar huruf dalam berbagai ukuran. Dari tes tersebut dapat diketahui ketajaman yang dimiliki oleh penyandang tunanetra. Ketajaman penglihatan penyandang tunanetra dikenal dengan istilah visus. Ketajaman penglihatan inilah yang menunjukkan seberapa peka indera penglihatan penyandang tunanetra terhadap cahaya. Jika penyandang tunanetra masih dapat melihat cahaya, maka disebut dengan low vision. Apabila sama sekali sudah tidak mampu merespon cahaya atau bayangan, disebut blind.

Kemampuan penyandang tunanetra yang kurang dalam penerimaan informasi melalui visual membuat penyandang tunanetra kurang ahli di bidang hitung-hitungan seperti matematika. Ini yang membuat mahasiswa penyandang tunanetra pusing kepalang menghadapi ujian statistik. Menurut Sudjihati, seorang ahli mata, penyandang tunanetra punya 2 golongan kosakata: pertama, kosakata yang berarti bagi dirinya, seperti perasaan atau kejadian yang dialami diri sendiri; kedua, kosakata yang bersifat verbalism. Verbalism di sini maksudnya, kosakata yang didapat penyandang tunanetra yang berasal dari perkataan dari orang lain. Misalnya saja, ketika ada orang lain bercerita mengenai pemandangan padang rumput yang luas. Maka penyandang tunanetra hanya sebatas mengerti kata-katanya tanpa dapat mengembangkannya dengan imajinasi.

Selain punya karakteristik yang berbeda-beda, penyandang tunanetra juga punya kebiasaan yang khas seperti membuat kegaduhan kecil dengan mengetuk-ngetuk meja, menggerakkan kaki, dan lain sebagainya. Kebiasaan ini dinamakan stimulasi diri. Stimulasi diri sangat membantu menyeimbangkan emosi jika sedang frustasi atau bosan..