Special Kids Day Out: Rekreasi Spesial untuk Anak Spesial

Special Kids Day Out: Rekreasi Spesial untuk Anak Spesial

Posted on Posted in Artikel, Peristiwa, Wawasan

Kehidupan yang dinamis dan aktivitas yang semakin padat menimbulkan rasa lelah fisik non fisik. Sering kali rasa lelah itu membuat individu merasa tertekan sehingga kehidupan menjadi tidak stabil. Dibutuhkan suatu cara untuk mengembalikan kestabilan diri dari rasa lelah tersebut. Kegiatan rekreasi dapat menjadi alternatif. Rekreasi merupakan suatu kegiatan yang dapat dilakukan oleh siapa pun untuk memperoleh kesegaran serta kepuasan yang bertujuan untuk penyegaran tenaga, fikiran, dan pembaharuan semangat. Bagaimana dengan penyandang autis yang memiliki banyak kegiatan penanganan yang padat dan terjadwal, dari pagi sampai menjelang tidur, yang dilakoni setiap hari? Kegiatan yang terjadwal dan monoton… Dapatkah Anda membayangkan suasana yang setiap hari dilakoni penyandang autis. Tidak mudah bagi penyandang autis untuk mengungkapkan yang dirasakan sebagaimana orang pada umumnya. Hambatan komunikasi yang masih melekat pada diri mereka adalah kesulitan yang mereka hadapi. Bagaimanakah penyandang autis dapat mengungkapkan rasa lelah atau penat itu? Sebagaimana kita dapat dengan mudah mengeksperikan dan memilih suatu kegiatan untuk rekreasi. Apakah penyandang autis perlu rekreasi? Mungkinkah kegiatan rekreasi hanya membuang waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk sekolah atau ikut terapi?
Kegiatan rekreasi bagi penyandang autis merupakan kegiatan yang memiliki banyak manfaat untuk mengembangkan berbagai keterampilan sekaligus bersenang-senang. Rasa lelah fisik dapat diobati dengan rekreasi yang bersifat fisik pula seperti bersepeda, menari, senam, yoga, bermain bulu tangkis, berenang, dll. Rasa lelah non fisik lebih mengarah pada rasa lelah secara pisikis yang terlihat pada suasana hati dan emosi. Lelah secara non fisik dapat diatasi dengan melakukan hal yang disenangi, bertemu dengan teman atau situasi lain yang menyenangkan seperti ke pantai, ke pegunungan, duduk-duduk di taman, menonton sebuah pertunjukkan, dan sebagainya. Intinya, menimbulkan rasa senang dan kepuasan secara batin. Begitu juga bagi penyandang autis, banyak kegiatan bersenang-senang yang dapat dilakukan.
Dikutip dari Autismspeaks.org, rekreasi menjadi penting bagi penyandang autis karena kegiatan rekreasi mempromosikan sebuah setting inklusi dalam masyarakat dan juga meningkatkan kualitas hidup. Penyandang autis dapat berekreasi di tempat rekreasi pada umumnya seperti pantai, taman bermain, alun-alun, kebun binatang, pegunungan, dan sebagainya. Dengan mengunjungi tempat rekreasi, penyandang autis dapat bersosialisasi dengan orang – orang yang ada di sekitar tempat itu. Pendamping atau orang tua dapat memperkenalkan atau membiasakan anak untuk memulai komunikasi dengan orang lain. Misalnya melatih anak untuk mengucapkan salam pada orang lain, menyapa orang lain, memulai berkomunikasi dengan orang lain, melambaikan tangan saat berpisah, bersalaman saat bertemu dengan orang yang sudah dikenal, berkenalan, bersalaman ketika berkenalan, tersenyum saat berkenalan, menanyakan dimana tempat sampah, menayakan dimana kah letak toilet, dimanakah warung, dan lain sebagainya. Selain memperluas pengalaman bergaul pada penyandang autis, adanya interaksi dengan orang-orang di sekitar dapat memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengenal penyandang autis. Mungkin juga di lingkungan tersebut ada orang yang ragu, atau sungkan, atau mungkin juga penasaran namun bingung untuk memulai interaksi dengan penyandang autis. Tidak ada salahnya apabila penyandang autis memulai interaksi dengan mereka. Dengan begitu, kekakuan masyarakat untuk berinteraksi dengan penyandang autis dapat dicairkan. Bukankah sikap ramah juga bentuk inklusi dalam masyararakat?
Adanya interaksi antar penyandang autis dengan orang-orang di sekitarnya dapat meningkatkan harga diri dan rasa percaya diri bagi penyandang autis. Entah, adakah survey atau riset yang mengumpulkan keterangan tentang rasa kepuasan yang dirasakan oleh penyandang autis akibat adanya pengakuan keberadaan mereka di masyarakat, namun yang jelas interaksi antara penyandang autis dengan lingkungan sekitar merupakan bentuk dari partisipasi dalam masyarakat. Hal ini memungkinkan penyandang autisme untuk terlibat dan merasa seperti bagian dari masyarakat. Berangkat dari interaksi sosial penyandang autis di lingkungan rekreasi, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi penyandang autis dapat dikembangkan, masyarakat inklusi dapat terbangun, partisipasi penyandang autis dalam masyarakat terbentuk, kualitas hidup meningkat, bahkan peluang untuk lebih mengembangkan kualitas hidup penyandang autis lebih terbuka.
Kenapa tidak memulai dan memperbanyak pengalaman rekreasi bagi peyandang autis dengan salah satu kegiatan dalam rangka peringatan hari penyandang autis sedunia? “Special Kids Day Out” adalah kegiatan bersenang-senang yang bertujuan memberikan pengalaman bersosialisasi bagi penyandang autis. Acara ini akan diadakan pada tanggal 20 Maret 2016 di D’Kandang Amazing Farm, Sawangan, Depok, Jawa Barat. Acara ini dibuka untuk penyandang autis usia 6-17 tahun. Cukup dengan membayar kontribusi Rp. 350.000, penyandang autis akan memperoleh kegiatan yang banyak manfaat untuk kesehatan, motorik, sosial, dan penyaluran bakat seni. Ada kegiatan olah raga bersama, permainan, kreasi melukis, berfoto, dan kegiatan menarik lainnya. Bagi yang ingin berpartisipasi dalam meriahnya acara ini dapat menghubungi Haviz di 081288209588 atau Nabilah di 0838944277927. Ada potongan harga konstribusi untuk yang mendaftar kolektif. Segera daftar!

Gambar: @autismdaysid
Membutuhkan sharing partner atau konsultasi layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus? kami terbuka untuk berbagi dengan Anda. Hubungi Kami!

0 comments