GPS tunanetra

TONGKAT GPS BAGI TUNANETRA

Posted on Posted in Artikel, Wawasan

Kebutuhan akan orientasi dan mobilitas merupakan salah aspek yang harus dipenuhi bagi tunanetra. Keterbatasannya dalam menentukan arah dan posisi secara tidak langsung akan menghambat kepada kemampuan mobilitasnya. Selain itu terdapat tunanetra yang dalam berlatih OM masih sering kesulitan dan terbentur benda-benda tertentu ketika berjalan, sehingga membutuhkan alat khusus sebagai bantuan untuk pembelajaran dalam berlatih OM.

Keterbatasannya dalam mengenal ruang dan tempat, terutama posisi tunanetra dalam daerah tertentu sering membuat ia sulit untuk memberi dan mencari tahu dimana posisi dia saat itu. Tak jarang tunanetra sering kali tersesat ketika berpergian di tempat yang baru dikenal. Hal tersebut membuat orang-orang terdekatnya khawatir dan merasa kebingungan untuk mencari informasi tentang posisi tunanetra.

Melihat kondisi di lapangan dan berawal dari tugas mata kuliah Teknologi Asisitif di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Empat mahasiswa yaitu Helmi Hasbi Ash-Siddiqi, Aini Qurrotullain, Kabia Nur Lestari dan Fitri Nur’aini Priherlani akhirnya memiliki inisiatif untuk membuat pengembangan dari tongkat tunanetra yang sudah ada untuk membantu aktifitas mobilitasnya. Tongkat yang biasa dipakai tunanetra belum terdapat sensor untuk mendeteksi rintangan.

Keempat mahasiswa tersebut memodifikasi tongkat tunanetra dengan menambahkan sensor pendeteksi rintangan yang berada di depan dan GPS (Global Positioning System) untuk memberikan informasi dimana posisi tunanetra berada melalui pesan singkat atau SMS.  Alat ini dibuat sebagai alat bantu pembelajaran bagi tunanetra dalam orientasi dan mobilitas serta sebagai alat pelacak jika tunanetra tersesat atau tidak tahu posisinya saat itu.

Alat ini dirancang oleh komunitas robotika Universitas Pendidikan Indonesia (KOMPOR UPI) yaitu Reynaldi dan tim. Spesifikasi alat ini dilengkapi dengan berbagai macam komponen yaitu :

  1. Sensor Ultrasonic yang berfungsi sebagai pendeteksi ada atau tidaknya benda yang menghalangi atau dapat membahayakan pengguna. Ketika benda tersebut berjarak < 1 meter maka microcontroller akan memerintahkan buzzer / speaker untuk memberitahu pengguna bahwa ada benda yang dapat menghalangi akses dalam melakukan mobilitas tersebut.
  2. Modul microcontroller berfungi sebagai pusat pengendali alat tesebut dimana semua logic akan diolah di dalam microcontroller menggunakan bahasa pemograman C++.
  3. Modul GPS berfungi untuk mendeteksi koordinat dimana alat ini berada. Untuk dapat memasukan kedalam map Modul GPS ini memerlukan suatu smartphone atau aplikasi lain yang dapat mengakses MAP secara manual.
  4. Tombol Panic Button/GPS Button dimana ketika pengguna merasa sudah kehilangan arah maka Microcontroler akan mngirimkan letak koordinat alat tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada nomor telpon yang telah di setting sebelumnya.

Alat ini sudah di uji cobakan kepada tunanetra di SLB Negeri Citeureup Kota Cimahi untuk menguji keefektifan alat ini, dan mendapatkan respon positif dari tunanetra itu sendiri “Bagus, jadi kalau diturunin di sembarang tempat bisa mengirim lokasi,mudah-mudahan nanti bisa diperbanyak dan dijual bebas”, Wiwin.

Untuk lebih mengetahui bagaimana tongkat GPS ini, berikut link profil tongkat GPS yang telah dikembangkan oleh keempat mahasiswa program magister Pendidikan Khusus UPI tersebut:

(HAKF)

 

Foto: Dokumentasi tim pengembang alat

 

Membutuhkan sharing partner atau konsultasi layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus? kami terbuka untuk berbagi dengan Anda. Hubungi Kami!

 

 

 

 

0 comments