IT-Assessment-Litcom-240x300

Tujuan dan Perencanaan dalam Asesmen

Posted on Posted in Artikel, Wawasan

Asesmen pada dasarnya ialah pengumpulan informasi tentang suatu kondisi. Sebelum kita melakukan penanganan pada suatu permasalahan, tentu saja kita perlu benar-benar mengetahui kondisi atau kedudukan permasalahan agar pemecahan masalah dapat dilakukan dengan baik dan benar. Maka, asesmen perlu dilakukan. Begitu pula dalam hal penanganan anak berkebutuhan pendidikan khusus.

Konsep asesmen dalam pendidikan kebutuhan khusus dijelaskan oleh Soendari, T. & Nani sebagai proses melakukan pengumpulan informasi secara sistematis dan menyeluruh tentang kemampuan anak. Dimana informasi tersebut akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program pembelajaran yang tepat bagi anak sehingga potensinya berkembang optimal. Berdasarkan penjelasan tersebut, kita ketahui bahwa asesmen merupakan kegiatan pengumpulan informasi tentang kemampuan awal anak.

Dari pengertian asesmen tersebut dapat kita ketahui bahwa tujuan asesmen dalam pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus diantaranya ialah:

  • Mengetahui kemampuan yang sudah dikuasai,
  • Mengetahui kemampuan yang masih memerlukan bantuan,
  • Mengetahui kemampuan yang sama sekali belum dikuasai,
  • Mengetahui kesulitan/hambatan yang dialami
  • Menyusun program pembelajaran jangka pendek dan jangka panjang.

Sebelum melakukan asesmen, kita perlu persiapan terlebih dahulu agar asesmen dapat berjalan lancar dan tentunya mampu mengungkap informasi yang dibutuhkan. Persiapan sebelum melakukan asesmen yang dapat dilakukan diantaranya ialah:

  • Menentukan aspek apa saja yang akan diasesmen

apakah ingin mengetahui kemampuan motorik? Atau membaca? atau kemampuan bina diri? Atau kemampuan dalam hal berkomunikasi? Tentu saja setiap aspek yang akan diasesmen mengikuti keperluan kita dalam menentukan kebutuhan penanganan.

  • Menentukan dengan cara apa kemampuan anak diungkap (metode asesmen)

Kita dapat melakukan asesmen dengan cara melakukan pengamatan, wawancara, atau tes praktik. Jika ingin lebih natural, kita dapat membentuk suatu kegiatan dimana anak melakukan aktivitas yang menunjukkan kemampuan tertentu, sementara itu kita mengamati dan mencatat kemampuannya dalam instrumen, sedangkan anak tidak merasa sedang dites.

  • Menentukan atau menyusun isntrumen

Setiap asesmen membutuhkan instrumen. Istrumen merupakan seperangkat format yang berisi kemampuan apa saja yang akan digali. Dalam format instrument tersebut kita juga dapat menuliskan keterangan tentang kemampuan anak yang diperoleh dari proses pelaksanaan asesmen. Kita dapat menggunakan instrument asesmen yang sudah dibakukan atau mengembangkan sendiri. Mengembangkan instrument asesmen sesuai konteks anak dan lingkungan dimana anak berada sangatlah mungkin dilakukan. Asalkan instrument dikembangkan dengan dasar yang dapat dipertanggung jawabkan. Misalnya, untuk membuat instrument asesmen aspek perkembangan, kita menggunakan teori perkembangan anak yang ditemukan dalam buku-buku perkembangan anak. Bisa juga mengadaptasi dari instrument yang sudah baku seperti menerjemahkan instrument dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Tentu saja dasar pengembangan asesmen tersebut harus disimpan tersendiri, sedangkan sumbernya disampaikan dalam format asesmen. Misalnya, di bagian atas format dapat disebutkan bahwa instrument dikembangkan dari teori perkembangan Piaget dalam buku Desmita tahun 2010 halaman 132-134. Mencantumkan sumber ini penting untuk menjamin bahwa asesmen yang kita lakukan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.

  • Mengatur waktu pelaksanaan, durasi pelaksanaan, perlengkapan yang dibutuhkan, termasuk penataan tempat dan dokumentasi asesmen jika diperlukan. Mengapa asesmen perlu diatur sedemikian rupa? Kita perlu memperhatikan berapa lama anak dapat benar-benar fokus dan mau mengikuti kegiatan asesmen. Jika pelaksanaan asesmen tidak diatur sedemikian rupa, bisa saja anak tidak nyaman dan tidak dapat menunjukkan potensi terbaiknya. Hal ini dapat menyebabkan kita melaporkan data yang salah. Jika data yang dilaporkan salah, maka kebutuhan belajar anak yang sesungguhnya tidak terungkap, potensi sesungguhnya tidak terungkap, dan pada akhirnya program pembelajaran pun akan kurang bahkan tidak tepat untuk anak.

Dokumentasi bentuk foto dan video pun perlu dilakukan untuk membantu kita melihat kembali kemampuan anak jika kita ragu atau lupa. Sebetulnya video dan foto sangat membantu kita dalam melakukan analisis kemampuan anak ketika waktu untuk melakukan asesmen tidak banyak.

  • Tentukan siapa yang akan melakukan asesmen. Ketika asesmen dilakukan, mungkin kita akan merasa sangat repot untuk mengkondisikan anak lalu mencatat kemampuannya dalam instrumen. Belum lagi perlu adanya dokumentasi. Untuk setting pelaksanaan asesmen individual seperti ini, memang diperlukan bantuan oleh orang lain untuk berbagi tugas. Jika memang pengambilan informasi dapat dilakukan seorang diri tanpa kekhawatiran ada moment yang terlewat, maka tambahan personil asesor (orang yang melakukan asesmen) tidak diperlukan. Pertimbangkan juga bagaimana respon anak ketika banyak orang yang melihatnya. Atau barangkali kondisi sekolah yang minim sumberdaya manusia. Oleh karena itu perlu dipikirkan siapa yang akan terlibat dalam proses asesmen.

Itulah penjelasan tujuan dilakukannya asesmen dan perencanaan asesmen. Semoga artikel ini dapat membantu untuk mempersiapkan asesmen dengan baik. (Ami)

 

 

0 comments